Pendahuluan
Kelompok sosial yang paling sederhana dalam kehidupan manusia adalah keluarga. Merupakan satu kesatuan kecil dari masyarakat terbentuk dengan susunan Kepala rumah tangga yaitu suami, ayah, Ibu rumah tangga adalah istri dari suami. Dan beberapa anak sebagai hasil dari perkawinan antara suami dan istri tadi.
Keluarga mempunyai peranan, membentuk suatu kepribadian seseorang dimana personalitas dari seseorang itu akan mempengaruhi corak dari masyarakat. Keluarga termasuk dalam ketagori permasalahan social walaupun dalam tingkatan kecil. Sebagai satu kesatuan dari berbagai personalia dan watak dari anggota-anggota di dalam keluarga.
Tujuan terbentuknya keluarga adalah penerusan generasi yang berjalan di atas kepentingan bersama yang menyatu dan berkepentingan mendapat kehidupan yang menyenangkan, meningkat, berbahagia bersama si buah hati untuk mencapai tujuan hidup.
Keluarga dalam hubungannya dengan anak mempunyai fungsi :
- Memberikan pengawasan terhadap anak.
- Memberikan dan menanamkan nilai-nilai sosial.
- Melengkapi orientasi hidup anak-anak.
- Memberikan kebebasan berpendapat bagi anak-anaknya.
- Mengembangkan kepribadian anak.
- Memberikan pengawasan terhadap anak.
Semenjak dalam kandungan Ibu dan Ayah sudah melakukan tugasnya mengadakan pengawasan terhadap perkembangan anak, dengan teliti memberi asupan gizi, membawanya berobat untuk melihat kesehatan dan perkembangan janin hingga tumbuh menjadi bayi. Setelah lahir tugas tetap dilaksanakan orang tua kepada anaknya. Baik fisik maupun psikis. Dengan kasih saying mereka berdua anak merasa tentram, nyaman berada di dekatnya.
Beranjak dewasa ternyata pengawasan yang dilakukan yang dilakukan tidak pernah berhenti. Pengawasan memang diperlukan untuk mengontrol segala kekurangan dan penyimpangan tindakananak untuk disesuaikan dengan norma-norma social yang berlaku di sekitar anak dan dianggap benar oleh masyarakat.
- Orang tua memberikan dan menanamkan nilai-nilai sosial
Unsur nilai social dimulai dari anak-anak ditunjukkan perasaan saying kepada sesame teman, mau menolong dan memberi sesuatu, meminjamkan barang/benda miliknya pada orang lain. Orang tua dengan teliti menjelaskan dan melarang perbuatan yang salah yang bertentangan dengan kepentingan orang lain, sopan santun, toleransi dan seterusnya.
- Melengkapi orientasi hidup anak-anak.
Anak-anak berkembang dan tumbuh dengan sikap apa adanya. Mereka belum tahu benar dan salah, kepentingan diri yang paling utama. Sebagai orang tua ternyata dengan sabar dan penuh tanggung jawab menggiring mereka ke dalam norma-norma umum. Tentu saja yang terbaik untuk anak yang dipilah oleh orang tua.
- Memberikan kebebasan berpendapat bagi anak-anaknya
Orang tua dalam hubungannya dengan anak terdapat 3 pola corak hubungan.
Pertama : Pola menerima – menolak
(dasar kemesraan orang tua terhadap anak)
Kedua : Pola memiliki – melepas
(sikap proteksi orang tua terhadap anak)
Ketiga : Sikap demokrasi – otokrasi
(partisipasi anak dalam menentukan kegiatan keluarga)
Dalam keluarga yang demokratis, anak akan tunduk secara membabi buta atau sebaliknya menjadi radikal.
- Memberikan kepribadian anak
Orang tua secara terus menerus mengamati perkembangan anaknya. Sebagai orang tua yang terbaik adalah selaku menanyakan kegiatan keseharian yang dilakukan anaknya. Memberikan pujian sesekali mengarahkan dan menegaskan kesalahan yang dilakukan anak untuk tidak mengulanginya lagi.
Kesimpulan :
Keluarga mempunyai peranan dan berpengaruh sekali terhadap proses sosialisasi anak. Jadi keluarga tersebut demokratis maka akan tercipta situasi : damai, tentram, hormat menghormati, gotong royong, tenggang rasa dan toleransi. Akan tetapi jika keluarga selalu toleransi maka akan berlaku :
- Nakal, menolak, curiga, menentang kekuasaan.
- Tunduk, patuh, pemalu, ketinggalan, dalam pergaulan, cemas dan ragu-ragu.
- Bila selalu memanjakan, anak cenderung : tidak petuh, emosional, selalu menuntut lebih, tak dapat bergaul dan terasing.
Sebagai masyarakat terkecil di bumi ini keluarga hendaknya dapat :
- Menciptakan kondisi keadaan psikologis dalam keluarga dengan cara :
- Menerima anak apa adanya.
- Hindari penilaian yang terlalu cepat (curiga) karena sifat bias mengancam.
- Beri pengertian secara emphatis.
- Menciptakan kebebasan psikologis dalam keluarga : yaitu dengan memberi kesempatan kepada anak untuk mengatakan atau menyatakan pikiran dan perasaannya secara bebas.
>> Kutipan dari ::
Mengenal Mutiara-Mutiara Bangsa
Karangan Poernomo Hartoprasonto (Kolonel artileri Purnawirawan)
