Matahari mulai menampakkan cahayanya,,, jam dinding pun selalu bertetak berirama. Jarum jam menunjukkan pukul 05.45. Dengan rasa terkejut setelah melihat jam. Nesa pun beranjak bangun dan turun dari tempat tidurnya. Bergeges nesa mengambil handuk dan menuju ke kamar mandi.
Dengan tergesa-gesa dia berangkat menuju sekolah. Seperti biasa Nesa tak pernah sarapan dirumah. Yang tak pernah lupa hanyalah telpon genggam kesayangan miliknya.
“Bu, Bapak Nesa berangkat dulu ya?” tak lupa menciuam tangan kedua Orang tuanya. Setelah berpamitan orang tuanya, Nesa bergegas mengambil sepeda dan mengayuhnya menuju sekolahnya.
Sesampai disekolah, seperti biasa Nesa menyapa Bapak Ibu gurunya yang berada di depan gerbang dengan senyuman yang tak diragukan lagi.
“Selamat pagi Pak, Bu?? Saya kesiangan ya Pak??” Selalu deh Nesa bercanda ma gurunya.
Dengan semyuman Pak Ros menjawab pertanyaan Nesa, “Hehe,, ni masih pagi Nes, besok agak siangan lagi ya agar tak kepagian??”
“Hem.. Hehe.. Jangan gitulah pak. Hehe Duluan ya pak?”
Nesa pun menuju ke tempat dimana sepeda miliknya diparkirkan.
Menuju kekelasnya dengan santai, terlihat sepi dilihat dari tempat parkir, di kiranya teman-temannya pada ke kantin ato di koprasi nongkrong-nongkrong. Ehh gak taunya, ada tugas dari Bu Fifi, dan Bu Fifi gak mengajar hari ini.
Masuk ke kelas duduk dan mengambil buku tugas, cepet-cepet deh nyelesain tugas nah setelah itu nongkrong di koprasi dengan teman-temannya.
“Nesa, buruan aku dah selesai nih kamu pinjem gak?” Nila nawarin hasil kerjaannya.
Nila anak emas di Kelas, walaupun umurnya dibawah kita-kita. Nila selalu ringking 1 kalo gak ringking 2, berebutan sama si Tika. Tika tidaklah segaul Nila, Tika pendiam dan lemah lembut.
“Hemm, bentar ya Nil. Tak coba ngerjain dulu yang gak bias ntar di kasih tau caranya aja ya? Okey”
Bergegas membersihkan buku yang ada diatas meja, dan mengumpulkan buku tugas yang telah ia selesaikan.
Dengan PD mereka-mereka, Nesa, Nila, May, Pita, Marta, Yani, Tya, dan Dyah. Berjalan menyusuri dari kelas menuju koprasi sekolah dengan santai dan gaya gojekannya itu. Walaupun dah merasa mengganggu kelas lain, tapi masih saja dilakukan.
Sesampainya di koprasi ada cowok yang deketin gerombolan itu.
Sesampainya di koprasi ada cowok yang deketin gerombolan itu.
“Nes, tuh cowok. Di panggil tuh, samperin gih!!” suruh Nila
“Ogah, emang aku cewek apaan nyamperin cowok? Kalau butuh ya dia dong yang nyamperin. Ups.. tapi aku gak bisa ngobrol sama Doni. Salam saja ya! Aku gak PD”
Sambil nongkrong di depan koprasi juga ngabisin jajan yang ada di koprasi, entah yang bayar siapa itu urusan belakangan.
Bel pelajaran mulai dan kini mereka mengikuti pelajaran selanjutnya, meski tak tentu apa yang mereka dapat. asal hadir aja dan mengikuti pelajaran yang ada.Saling ngobrol-ngobrol buyar dari tempat duduk masing-masing pindah ke lain tempat untuk cerita-cerita hal yang tak penting.
satu dua nama dipanggil untuk mengerjakan soal di papan tulis, dan ketiganya nama Nesa di panggil.
"Nesa, yok maju ngerjakan nomor 3."
"Pak, saya belum selesai."
"Nanti yang gak bisa, bisa dibantu, ayo maju Nes!"
Dengan santai dan tanpa beban Nesa maju mengerjakan soal walaupun dia tau kalau dia tak bisa mengerjakan.
"Pak, Saya tak bisa pak. Bantulah saya."
"Rumus kalor jenis apa Nes?"
“Q = m x c x ∆t“
“Nah itu di bolak balik”
Akhirnya selesai juga yang dikerjakan oleh Nesa, dan hasilnya seperti yang diharapakn dan tak seperti yang dibayangkan..
“Susah banget ya, kalau emang gak hafal rumusnya, aduh… Nil ajarin dong biar aku bisa pinter, gak usah kayak kamu pinternya yang penting bisa ajalah, biar gak malu-maluin.”
“Belajar bareng aja tiap pagi.”
“Okey.”
Nesa berpikir untuk belajar dan mencintai rumus-rumus yang ada dan belajar semua pelajaran. Karena selama ini Nesa hanyalah anak sekolahan biasa yang gak begitu amat mementingkan pelajaran.
Mulai dah tiap pagi Nesa berangkat lebih awal dari sebelumnya dan belajar bersama teman-temannya. Namun, tak bisa salam sapa bersama Bapak Ibu guru tiap paginya hingga dikira Nesa tak masuk sekolah.
Dengan kesungguhan Nesa yang cantik tapi gak PD itu, akhirnya Nesa sedikit demi sedikit bisa mengikuti pelajaran dengan baik dan bisa diserap dalam otaknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar