Sabtu, 09 April 2011

“PENGGANTI BUNDA DARI ZENNA UNTUK AYAH”


Kabut-kabut duka masih menyelimuti keluarga gadis mungil itu. Rangkaian-rangkaian bunga masih menghiasi pelataran rumah mewah di kawasan perumahan elit  Zenna seoarang gadis cilik yang selalu ceria dan tak pernah muram, kini telah tertunduk lesu di sudut ruang yang gelap dan sunyi. Raut wajah muram selalu tertempel di wajah polos gadis mungil yang tak berdosa itu.Kenangan-kenangan indah dimasa lalu masih terukir jelas di benak seorang gadis mungil itu. Seorang ibu yang telah melahirkannya dan telah merawatnya dengan penuh kasih sayang kini telah meninggalkannya untuk selama-lamanya.
            “bunda…bunda…Zenna kangen bunda!!” sambil sesenggukan Zenna merengek memanggil ibunya.
            Tetesan air mata Zenna mengalir tanpa henti. Rengekan demi rengekan yang keluar dari mulut Zenna tak mendapat respon dari siapapun. Ayah Zenna masih mengurung diri dikamar yang selama ini di gunakan untuk memadu kasih antara nya dab mendiang istrinya. Tiap kali mendengar isak tangis Ayahnya, sebongkah benda keras serasa menghantam kepalanya.
            Cahaya bulan menerobos masuk dan menyorot wajah Zenna yang sedang tertunduk pilu itu. Tiba-tiba Zenna teringat pesan bundanya, “ketika Zenna mendapat ujian dari Allah Zenna harus bersabar , lebih baik Zenna berdoa kepada Allah yang telah memberikan cobaan kepada kita” bisik Zenna mencoba mengulang  pesan bundanya. Zenna mulai beranjak dari tempatnya bersandar. Kaki kecil Zenna mulai melangkah pasti menuju kamar tempat Ayahnya mengurung diri.
            “tok…tok..tok” tangan kecil Zenna mulai mengetuk pintu kamar Ayahnya.
            “Ayah…Ayah…” Zenna memanggil Ayahnya dengan linangan air mata yang membasahi pipinya.
            Dengan segera Ayah zenna membukakan pintu untuk Zenna. Ayah zenna meraih tubuh mugil Zenna dan memeluk Zenna dengan erat. Telapak tangan halus Zenna mendarat di pipi Ayahnya, dan menghapus air mata Ayahnya.
            “Ayah…Ayah jangan nangis lagi ya..!! kalo Ayah nangis nanti bunda ikut sedih.” pinta Zenna.
            Ayah Zenna hanya bisa menganggukan kepala, sebagai isyarat dia mengiyakan pendapat Zenna.
            “Ayah kita berdoa untuk bunda yuuk.” Ajak Zenna kepada Ayahnya.
            Tanpa membalas ajakan dari Zenna, Ayah Zenna meraih tangan Zenna dan menggandengnya menuju kamar untuk berdoa kepada Allah agar almarhumah tenang di sisi Allah.
***
            9 tahun telah berlalu, kini Zenna telah tumbuh menjadi gadis dewasa yang sangat cantik. Satu tahun belakangan ini Zenna merasa rasa sayang Ayahnya untuk Zenna perlahan-lahan mulai pudar. Setelah sekian lama memendam perasaan itu kini Zenna memberanikan diri untuk mengajukan pertanyaan tersebut untuk Ayahnya.
            “Ayah…, Ayah ngerasa nggak???”tanya Zenna
            “ngerasa apa Zeen??”tanya Ayah menyelidik.
            “yah…kenapa sih belakangan ini Ayah sering pulang malam??”tanya Zenna
            “iya Zeen…belakangan ini Ayah sibuk sekali.”jawab Ayah dengan tenang.
            “jangan-jangan Ayah udah nggak perduli lagi ya sama Zenna??”tambah Zenna
            “jelas tidak dong Zeen…kamu adalah satu-satunya anak Ayah dan hanya kamu family yang Ayah punya. ” jelas Ayah.
            Kini Zenna lega mendengar jawaban dari Ayahnya. Zenna pun tersenyum sambil memeluk Ayahnya.
            “yah…sekarang Ayah sudah punya pengganti bunda belum??”tanya Zenna dalam pelukan Ayahnya.
            “Zeen…jangan tanya seperti itu lagi yaa!!”pinta Ayah Zenna.
            “lho kenapa yah??”tanya Zenna menelisik.
            “tidak akan ada yang bisa menggantikan bunda di hati Ayah” jawab Ayah dengan menitikan air mata.
            “tapi Ayah…Ayah juga butuh pendamping.”
            “tidak untuk saat ini Zeen”
            “kenapa yah??”
            “karena Ayah sudah mempunyai kamu, kamu adalah segalanya bagi Ayah, Ayah sudah bahagia bisa menikmati hari-hari Ayah dengan kamu” jelas Ayah ke Zenna
            “ayaaaaah…Ayah bisa aja dech…Zenna juga sayang Ayah. Tapi Ayah…untuk saat ini dan untuk seterusnya Zenna sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu yah.”
            “Zenna cukup!! Ayah jangan paksa ayah lagi untuk mencari pengganti bunda.” bentak Ayah.
            Dengan mata yang berkaca-kaca Zenna berlari meninggalakan Ayahnya. Masih terngiang di telinga Zenna kata-kata yang dilontarkan Ayahnya tadi. Zenna sangat merasa bersalah telah memaksa Ayahnya untuk segera mendapatkan pengganti sang bunda.
            Dikamar Zenna terpajang foto-foto semasa kecilnya bersama sang bunda. Zenna mengusap foto sang bunda. Melihat foto-foto yang menyisakan kenangan manis itu, sejurus ingatannya terbang pada 10 tahun silam. Ketika bundanya duduk disebelah Zenna sambil tersenyum manis melihat kamera yang sudah bersiap menjepret kearah mereka berdua.
            “ternyata cinta Ayah untuk bunda tidak pernah pudar.” Gumam Zenna pelan.
            Zenna tenggelam dalama lamunannya, semakin dalam dan semakin dalam hingga akhirnya Zenna terlelap sambil memeluk erat foto sang bunda.
            “derrrt…derrrt” Zenna terbangunkan oleh getar handphone dalam sakunya. Zenna pun bergegas mengambil handphone-nya dalam saku.
            “hallo dengan Zenna di sini, ini siapa ya??” ucap Zenna penasaran
            “Zeen…masih inget tante??” tanya si penelpon
            “siapa ya??” tanya Zenna penasaran.
            “sebentar-sebentar….kalau dari suaranya kelihatanya Zenna kenal.” Sahut Zenna
            “ini tante Zeen, tante yang di mall kemarin yang kamu tolongin waktu mau di rampok.” Ucap tante menjelaskan.
            “ooohhh…tante Selvi, ada apa tan??” tanya Zenna.
            “enggak ada apa-apa zenn, Cuma mau bersilaturahmi saja sama kamu. Eh Zeen tante ini ada di Green Bambbo, kesini dong!!” pinta tante Selvi.
            Green Bambbo tan?? Oke tante 15 menit lagi Zenna sampai. Zenna ganti baju dulu ya tante. Da..da… ” ucap Zenna girang.
            Secepat mungkin Zenna mencari baju yang cocok dan segera memanggil pak Maman untuk mengantarkannya ke Green Bambbo.
            “pak Maman anterin aku ke Green Bambbo ya!! Restorant seperti bisaanya itu lho pak.” Pinta Zenna.
            “siap non.” Jawab pak Maman.
15 menit telah berlalu dan akhirnya…
            “tante….” Sapa Zenna.
            “eh Zenna.” Balas sang tante sambil mengusapkan tissue di pipi kanan-nya.
            “Zeen…tante mau cerita sama Zenna. Tante nggak tau lagi mau cerita masalah ini ke siapa. Jadi tante berfikir hanya kamu yang bisa mengerti tante dan mungkin bisa membantu tante. Mau ya Zeen??” pinta tante.
            “iya tante silahkan…Zenna mau kok.” Ucap Zenna lembut.
            Lebih dari satu jam sudah sang tante berkeluh kesah kepada Zenna. Sering kali tante Selvi mengusapkan tissue ke kedua pipinya yang memar. Ternyata tante Selvi sedang mempunyai masalah dengan suaminya dan sekarang tante Selvi telah diusir dari rumah suaminya. Zenna sangat kasihan dengan tante Selvi, akhirnya Zenna menyarankan tante Selvi untuk tinggal di apartement milik Ayahnya yang bersebrangan dengan rumah yang dihuni Zenna dan Ayahnya.
            Awalnya tante Selvi menolak, tapi setelah mendapatkan rayuan dari Zenna, akhirnya tante Selvi mau.
            “tapi Zenn…bagaimana kalau Ayahmu tidak setuju dengan semua ini??” tanya tante Selvi.
            “udahlah tante, soal Ayah itu gampang” ucap Zenna meredam kegelisahan tante Selvi.
            “kita pulang sekarang yuuk tan!” Ajak Zenna.
            Senyuman tante Selvi mengisyaratkan kesetujuannya kepada Zenna. Zenna segera meraih tangan tante Selvi dan menggandengnya menuju sebuah mobil sport sexy warna merah.
            “pak Maman kita pulang sekarang!” ucap Zenna memerintah sopirnya dengan lembut.
            “oke non.” Ucap pak Maman
            Setelah sampai dirumah, ternyata Ayah Zenna sudah berangkat ke luar negeri untuk mengurus pekerjaan.
            “emak…emak….” Teriak Zenna memanggil pembantunya.
            “ada apa non kok teriak-teriak??” tanya pembantu Zenna yang sudah belasan tahun membantu di rumah Zenna.
            “mak…Ayah udah berangkat?? Berapa hari mak??” tanya Zenna.
            “udah non, kira-kira 4 atau 3 hari.” Jawab emak.
            “emak Zenna mau minta tolong, boleh kan??” Zenna bertanya dengan santun.
            “iya, boleh non.” Jawab emak
            “mak, tolong rapikan kamar tamu depan ya! Buat tante Selvi.” Pinta Zenna.
            “baik non.” Jawab emak
            Zenna menggandeng tangan kanan tante Selvi menuju kamarnya. Zenna menceritakan semua tentang  kehidupan semasa kecilnya kepada tante Selvi. Zenna menceritakan semua kebahagiaan saat bundanya masih ada, Zenna juga tak lupa menceritakan keinginannya mempunyai bunda baru. Detik demi detik bergulir dengan begitu cepat. Tak terasa ternyata udara malam mulai menyelimuti kehangatan mereka berdua, Zenna pun tertidur di pangkuan tente Selvi.
***
            3hari telah berselang, akhirnya hari yang dinanti Zenna datang juga. Ayah Zenna menemui Zenna yang masih tertidur dikamarnya. Ayah zenna mencium kening Zenna, Ayah zenna melihat ada segelas susu di meja samping tempat tidur Zenna yang masih hangat.
            “tumben si bibik nganter susu ke kamar Zenna.” Gumam Ayah Zenna
            “eh Ayah.” Sapa Zenna.
            “zenna maafin ayahnya…kemarin sudah marahin kamu.”
            “iya yah. Zenna juga udah maafin ayah kok. Zenna memang pantas dimarahin. Nggak sepantasnya zenna memaksa ayah untuk mencari pengganti bunda.”
            “bau banget Zeen, mandi gih…biar nggak bau!!” perintah Ayah.
            “iya-iya yah. Kayak Ayah udah mandi aja.” Jawab Zenna sambil ngeledek Ayahnya.
            Ayah Zenna tersenyum kepada Zenna, lalu Ayah membuka semua tirai di kamar Zenna.
            “Zeen…Zenna…udah mandi Zeen??” tanya seorang perempuan di balik pintu kamar Zenna.
            “siapa diluar??” respon Ayah Zenna dari dalam kamar.
            Belum sempat menjawab pertanyaan Ayah zenna, Zenna udah membukakan pintu kamarnya sambil memperkenalkan tante Selvi.
            “Ayah ini tante Selvi, teman Zenna. Dan tante ini pak Wisnu Ayah Zenna.” Ucap Zenna mencoba memperkenalkan.
            Sambil tersenyum Ayah zenna menjabat tangan tante Selvi.
            “ya sudah, Zenna mau mandi dulu ya, silakan kalian berbincang-bincang.” Ucap Zenna tergesa-gesa.
            Mereka saling menceritakan masalah mereka masing-masing. Disela-sela perbincangan mereka, mereka sesekali melemparkan lelucon-lelucon yang membuat mereka tertawa terbahak-bahak.
            Setelah 2jam mereka bercerita, tante Selvi berniat untuk kembali ke apartement milik Ayah Zenna.
            “looh..tante Selvi mana yah??” tanya Zenna
            “udah balik Zeen.” Jawab Ayah Zenna.
            “yah, tante Selvi kasian ya, masak di usir suaminya.” Cerita Zenna kepada Ayahnya.
            “iya kasihan sekali dia. Ayah juga udah tau semua.”
            “yah, tante Selvi itu baik ya, masak tadi pagi tante Selvi nganter susu ke kamar Zenna.”
            “oh..jadi yang nganterin susu itu tante Selvi??” tanya Ayah.
            “iya yah.” Jawab Zenna singkat.
            “Ayah suka ya??” tambah Zenna.
            “nggak kok…” jawab Ayah dengan malu-malu.
            “cieee….ya udah yah Zenna mau ke rumah tante Selvi dulu. Dada Ayah…” pamit Zenna.
            “iya…salam ya…” ucap Ayah.
            “iya iya yaah..” jawab Zenna.
            Zenna berlari keluar dari rumah dan segera menuju rumah tante Selvi yang ada di depan rumahnya. Zenna menceritakan semua perbincangan Zenna dengan Ayahnya tadi. Ternyata tante Selvi juga mempunyai rasa yang sama dengan Ayah Zenna ketika awal pertemuanya dengan Ayah Zenna.
***
            “Zenna…bangun!! Ayo bantu mama nyiapin sarapan buat Ayah.” Teriak seorang wanita dari depan pintu kamar Zenna.
            Zenna bangun dan beranjak dari tempat tidurnya.
            “iya mamaku sayang…. Zenna uda bangun nih. Emangnya mama pagi ini masak apa sih wangi banget baunya??” tanya Zenna penasaran.
            “udah ayo cepet turun. Pokoknya sarapan pagi ini sangat special.” Jawab mama singkat.
            Mama zenna segera meraih tangan Zenna dan menggandengnya menuruni tangga. Zenna pun mengikuti langkah mamanya.
            “yah nanti Zenna mau pergi sebentar ya.” Pamit Zenna kepada Ayahnya.
            “mau kemana Zeen??” tanya Ayah Zenna.
            “mau ke rumah teman Zenna yah.” Jawab Zenna.
            “oooh…iya boleh. Tapi hati-hati ya Zeen!!” pinta Ayah Zenna.
            Zenna tersenyum dan tanpa ragu tangan kanannya meraih ayam goreng yang dimasak mamanya special untuknya. Tak mau berlama-lama makan Zenna segera menghabiskan makanan yang ada di piringnya lalu mengambil langkah seribu menuju kamarnya untuk mandi.
            15 menit Zenna berada di dalam kamar. Zenna meraih gagang pintu kamarnya dan bersiap untuk menuju tempat tujuan.
            “mam Zenna pergi dulu ya. daaa” teriak Zenna dari teras depan.
            Secepat mungkin Zenna mengemudikan mobilnya. Akhirnya sampailah ditempat tujuan. Zenna berjalan menelusuri batu nisan. Langkah Zenna terhenti ketika melihat tulisan “SEKARDHANI WULAN ASIH” yang terukir indah di sebuah batu nisan yang telah using termakan zaman.
            “bunda… Zenna kangen banget sama bunda. Bunda…ternyata bunda pergi udah lama banget ya. Kini Zenna udah 16 tahun. Bun…sekarang Zenna telah mempunyai seorang yang bisa mengerti Zenna, seperti bunda dulu. Yang selalu merawat Zenna, menghibur Zenna ketika Zenna sedih dan selalu membantu Zenna saat Zenna tertimpa masalah. Kini tante Selvi telah menjadi mama Zenna. Tapi walaupun kini Zenna telah mempunyai mama baru, Zenna nggak akan melupakan bunda yang telah melahirkan Zenna kedunia ini.” Ucap Zenna sambil memandang pemakaman bundanya.
            “bun Zenna pulang dulu ya… Zenna sayang bunda.” Ucap Zenna sambil mencium batu nisan sang bunda.
            Wajah Zenna mendadak merah dan terlihat shock setelah membalikkan badannya.
            “Ayah…. Mama… udah lama di sini??” tanya Zenna.
            “lumayan… lagian kamu mau kerumah bunda nggak bilang-bilang sama Ayah dan mama. Jadi kami sepakat untuk mengikuti kamu.” Jawab Ayah.
            Zenna menggandeng Ayahnya dan mamanya mendekat pemakaman bundanya.
            “bunda ini mama Zenna yang Zenna ceritakan tadi. Kini Ayah, bunda dan mama Selvi adalah orang-orang yang selalu mengisi hati Zenna dan selalu Zenna sayangi. Zenna sayang kalian semua” ucap Zenna sambil memeluk Ayah, mamanya dan batu nisan bundanya.

*** SELESAI ***

Senin, 21 Maret 2011

KELUARGA SEBAGAI KELOMPOK SOSIAL


Pendahuluan
Kelompok sosial yang paling sederhana dalam kehidupan manusia adalah keluarga. Merupakan satu kesatuan kecil dari masyarakat terbentuk dengan susunan Kepala rumah tangga yaitu suami, ayah, Ibu rumah tangga adalah istri dari suami. Dan beberapa anak sebagai hasil dari perkawinan antara suami dan istri tadi.

Keluarga mempunyai peranan, membentuk suatu kepribadian seseorang dimana personalitas dari seseorang itu akan mempengaruhi corak dari masyarakat. Keluarga termasuk dalam ketagori permasalahan social walaupun dalam tingkatan kecil. Sebagai satu kesatuan dari berbagai personalia dan watak dari anggota-anggota di dalam keluarga.
Tujuan terbentuknya keluarga adalah penerusan generasi yang berjalan di atas kepentingan bersama yang menyatu dan berkepentingan mendapat kehidupan yang menyenangkan, meningkat, berbahagia bersama si buah hati untuk mencapai tujuan hidup.

Keluarga dalam hubungannya dengan anak mempunyai fungsi :
  1. Memberikan pengawasan terhadap anak.
  2. Memberikan dan menanamkan nilai-nilai sosial.
  3. Melengkapi orientasi hidup anak-anak.
  4. Memberikan kebebasan berpendapat bagi anak-anaknya.
  5. Mengembangkan kepribadian anak.

  1. Memberikan pengawasan terhadap anak.
Semenjak dalam kandungan Ibu dan Ayah sudah melakukan tugasnya mengadakan pengawasan terhadap perkembangan anak, dengan teliti memberi asupan gizi, membawanya berobat untuk melihat kesehatan dan perkembangan janin hingga tumbuh menjadi bayi. Setelah lahir tugas tetap dilaksanakan orang tua kepada anaknya. Baik fisik maupun psikis. Dengan kasih saying mereka berdua anak merasa tentram, nyaman berada di dekatnya.

Beranjak dewasa ternyata pengawasan yang dilakukan yang dilakukan tidak pernah berhenti. Pengawasan memang diperlukan untuk mengontrol segala kekurangan dan penyimpangan tindakananak untuk disesuaikan dengan norma-norma social yang berlaku di sekitar anak dan dianggap benar oleh masyarakat.

  1. Orang tua memberikan dan menanamkan nilai-nilai sosial
Unsur nilai social dimulai dari anak-anak ditunjukkan perasaan saying kepada sesame teman, mau menolong dan memberi sesuatu, meminjamkan barang/benda miliknya pada orang lain. Orang tua dengan teliti menjelaskan dan melarang perbuatan yang salah yang bertentangan dengan kepentingan orang lain, sopan santun, toleransi dan seterusnya.

  1. Melengkapi orientasi hidup anak-anak.
Anak-anak berkembang dan tumbuh dengan sikap apa adanya. Mereka belum tahu benar dan salah, kepentingan diri yang paling utama. Sebagai orang tua ternyata dengan sabar dan penuh tanggung jawab menggiring mereka ke dalam norma-norma umum. Tentu saja yang terbaik untuk anak yang dipilah oleh orang tua.

  1. Memberikan kebebasan berpendapat bagi anak-anaknya
Orang tua dalam hubungannya dengan anak terdapat 3 pola corak hubungan.
            Pertama            : Pola menerima – menolak
                                      (dasar kemesraan orang tua terhadap anak)
            Kedua              : Pola memiliki – melepas
                                      (sikap proteksi orang tua terhadap anak)
            Ketiga              : Sikap demokrasi – otokrasi
                                      (partisipasi anak dalam menentukan kegiatan keluarga)
            Dalam keluarga yang demokratis, anak akan tunduk secara membabi buta atau sebaliknya menjadi radikal.

  1. Memberikan kepribadian anak
Orang tua secara terus menerus mengamati perkembangan anaknya. Sebagai orang tua yang terbaik adalah selaku menanyakan kegiatan keseharian yang dilakukan anaknya. Memberikan pujian sesekali mengarahkan dan menegaskan kesalahan yang dilakukan anak untuk tidak mengulanginya lagi.

Kesimpulan :
Keluarga mempunyai peranan dan berpengaruh sekali terhadap proses sosialisasi anak. Jadi keluarga tersebut demokratis maka akan tercipta situasi : damai, tentram, hormat menghormati, gotong royong, tenggang rasa dan toleransi. Akan tetapi jika keluarga selalu toleransi maka akan berlaku :
  1. Nakal, menolak, curiga, menentang kekuasaan.
  2. Tunduk, patuh, pemalu, ketinggalan, dalam pergaulan, cemas dan ragu-ragu.
  3. Bila selalu memanjakan, anak cenderung : tidak petuh, emosional, selalu menuntut lebih, tak dapat bergaul dan terasing.

Sebagai masyarakat terkecil di bumi ini keluarga hendaknya dapat :
  1. Menciptakan kondisi keadaan psikologis dalam keluarga dengan cara :
    1. Menerima anak apa adanya.
    2. Hindari penilaian yang terlalu cepat (curiga) karena sifat bias mengancam.
    3. Beri pengertian secara emphatis.
  2. Menciptakan kebebasan psikologis dalam keluarga : yaitu dengan memberi kesempatan kepada anak untuk mengatakan atau menyatakan pikiran dan perasaannya secara bebas.


>> Kutipan dari ::
      Mengenal Mutiara-Mutiara Bangsa
      Karangan Poernomo Hartoprasonto (Kolonel artileri Purnawirawan)

Kamis, 17 Maret 2011

RUMUS Buatlah Aku cinta padamu

Matahari mulai menampakkan cahayanya,,, jam dinding pun selalu bertetak berirama. Jarum jam menunjukkan pukul 05.45. Dengan rasa terkejut setelah melihat jam. Nesa pun beranjak bangun dan turun dari tempat tidurnya. Bergeges nesa mengambil handuk dan menuju ke kamar mandi.
Dengan tergesa-gesa dia berangkat menuju sekolah. Seperti biasa Nesa tak pernah sarapan dirumah. Yang tak pernah lupa hanyalah telpon genggam kesayangan miliknya.
“Bu, Bapak Nesa berangkat dulu ya?” tak lupa menciuam tangan kedua Orang tuanya. Setelah berpamitan orang tuanya, Nesa bergegas mengambil sepeda dan mengayuhnya menuju sekolahnya.
Sesampai disekolah, seperti biasa Nesa menyapa Bapak Ibu gurunya yang berada di depan gerbang dengan senyuman yang tak diragukan lagi.
“Selamat pagi Pak, Bu?? Saya kesiangan ya Pak??” Selalu deh Nesa bercanda ma gurunya.
Dengan semyuman Pak Ros menjawab pertanyaan Nesa, “Hehe,, ni masih pagi Nes, besok agak siangan lagi ya agar  tak kepagian??”
“Hem.. Hehe.. Jangan gitulah pak. Hehe Duluan ya pak?”
Nesa pun menuju ke tempat dimana sepeda miliknya diparkirkan.
Menuju kekelasnya dengan santai, terlihat sepi dilihat dari tempat parkir, di kiranya teman-temannya pada ke kantin ato di koprasi nongkrong-nongkrong. Ehh gak taunya, ada tugas dari Bu Fifi, dan Bu Fifi gak mengajar hari ini.
Masuk ke kelas duduk dan mengambil buku tugas, cepet-cepet deh nyelesain tugas nah setelah itu nongkrong di koprasi dengan teman-temannya.
“Nesa, buruan aku dah selesai nih kamu pinjem gak?” Nila nawarin hasil kerjaannya.
Nila anak emas di Kelas, walaupun umurnya dibawah kita-kita. Nila selalu ringking 1 kalo gak ringking 2, berebutan sama si Tika. Tika tidaklah segaul Nila, Tika pendiam dan lemah lembut.
“Hemm, bentar ya Nil. Tak coba ngerjain dulu yang gak bias ntar di kasih tau caranya aja ya? Okey”
Bergegas membersihkan buku yang ada diatas meja, dan mengumpulkan buku tugas yang telah ia selesaikan.
Dengan PD mereka-mereka, Nesa, Nila, May, Pita, Marta, Yani, Tya, dan Dyah. Berjalan menyusuri dari kelas menuju koprasi sekolah dengan santai dan gaya gojekannya itu. Walaupun dah merasa mengganggu kelas lain, tapi masih saja dilakukan.

Sesampainya di koprasi ada cowok yang deketin gerombolan itu.
“Nes, tuh cowok. Di panggil tuh, samperin gih!!” suruh Nila
“Ogah, emang aku cewek apaan nyamperin cowok? Kalau butuh ya dia dong yang nyamperin. Ups.. tapi aku gak bisa ngobrol sama Doni. Salam saja ya! Aku gak PD”
Sambil nongkrong di depan koprasi juga ngabisin jajan yang ada di koprasi, entah yang bayar siapa itu urusan belakangan.
Bel pelajaran mulai dan kini mereka mengikuti pelajaran selanjutnya, meski tak tentu apa yang mereka dapat. asal hadir aja dan mengikuti pelajaran yang ada.Saling ngobrol-ngobrol buyar dari tempat duduk masing-masing pindah ke lain tempat untuk cerita-cerita hal yang tak penting.
satu dua nama dipanggil untuk mengerjakan soal di papan tulis, dan ketiganya nama Nesa di panggil.
"Nesa, yok maju ngerjakan nomor 3."
"Pak, saya belum selesai."
"Nanti yang gak bisa, bisa dibantu, ayo maju Nes!"
Dengan santai dan tanpa beban Nesa maju mengerjakan soal walaupun dia tau kalau dia tak bisa mengerjakan.
"Pak, Saya tak bisa pak. Bantulah saya."
"Rumus kalor jenis apa Nes?"
“Q = m x c x  ∆t“
“Nah itu di bolak balik”
Akhirnya selesai juga yang dikerjakan oleh  Nesa, dan hasilnya seperti yang diharapakn dan tak seperti yang dibayangkan..
“Susah banget ya, kalau emang gak hafal rumusnya, aduh… Nil ajarin dong biar aku bisa pinter, gak usah kayak kamu pinternya yang penting bisa ajalah, biar gak malu-maluin.”
“Belajar bareng aja tiap pagi.”
“Okey.”
Nesa berpikir untuk belajar dan mencintai rumus-rumus yang ada dan belajar semua pelajaran. Karena selama ini Nesa hanyalah anak sekolahan biasa yang gak begitu amat mementingkan pelajaran.
Mulai dah tiap pagi Nesa berangkat lebih awal dari sebelumnya dan belajar bersama teman-temannya. Namun, tak bisa salam sapa bersama Bapak Ibu guru tiap paginya hingga dikira Nesa tak masuk sekolah.
Dengan kesungguhan Nesa yang cantik tapi gak PD itu, akhirnya Nesa sedikit demi sedikit bisa mengikuti pelajaran dengan baik dan bisa diserap dalam otaknya.

Minggu, 13 Maret 2011

Puisiku Untuk Ibu

Maaf Ibu,
Kadang kuluput memikirkanmu
Karena seringnya memikirkan diriku
Kadang aku tidak membantumu
Karena sering bergelut dengan kesibukkanku
Kadang aku pergi meninggalkan rumah dan ibu
Karena seringnya pergi dengan teman-temanku
Kadang aku jarang bicara denganmu
Karena seringnya berhadapan dengan radio dan Televisi dikamarku
tapi kini, kusangat sadar Ibu
Di hati dan Otakku hanya Ibu
Betapa ku butuh bantuan Ibu
Betapa aku selalu ingin menemani Ibu kemanapun itu
Betapa aku pun ingin selalu curhat dengan Ibu mengenai masalahku
Betapa aku butuh perhatian dan sayang Ibu di saat sakitku
Betapa aku pun butuh pundak Ibu, di saat tangisku
Ibu…
Ibu sungguh Inspirasiku
Ibu sungguh cinta dan sayangku
Ibu sungguh tautanku
Ibu benar segala2nya untukku
Maafkan aku Ibu
Aku manusia yang tak sempurna, yang selalu punya dosa dan membuatmu terbeban olehku
Hingga kadang Ibu menangis dan Jarang tersenyum karna ulahku
Tapi….
Aku yakin akan satu Hal
Do’a Ibu, bisa merubah dan menjadikan aku sebagai orang yang berhasil dan berguna untuk ibu atau siapa pun itu
Dan yang terpenting
Aku selalu sayang Ibu
SELALU…..

Sabtu, 12 Maret 2011

Kesalahan Orang Pintar



Kesalahan dari orang pintar, kenapa orang yang terlalu pintar hanya bisa menjadi orang no.2??

Dan orang yang berpendidikan lebih rendah dapat menjadi no.1 diantara orang berpendidikan.
 
1. karena terlalu banyak mengetahui hingga lupa untuk terjun dan melakukan aksi

2. tidak berani aksi padahal didalam hatinya, “aku pasti bisa kalau aku mau”, bodo banget nih. Memang benar yang dikatakan oleh orang orang terdahulu, “pikiran yang salah itu bisa menjadi musuh kita sendiri” (hehehe kayak pilosop aja). Orang yang seperti ini adalah orang yang tidak pernah gagal karena dia tidak pernah mencoba.

3. merasa dirinya pintar sehingga enggan diberitahukan oleh orang yang dia rasa pendidikannya lebih dibawahnya. Kalau menurut saya orang ini adalah orang yang sok pintar

4. biasanya ahli ekonomi atau ahli yang lain lain menggunakan rumus baku yang menurut saya sudah kadaluarsa/ expired. Selalu menggunakan rumus rumus yang dalam kehidupan nyata lebih berkembang 
daripada yang tertera di buku. Jadi orang seperti ini tidak menjadi orang yang kreatif.

5. tidak ingin lebih bodoh dari muridnya sehingga walaupun muridnya benar tetapi dianggapnya salah. Belum tahu mereka ini, kalau murid tidak lebih pintar dari gurunya berarti ilmu pengetahuan tidak berkembang.
ada pepatah orang bijak yang mengatakan

“KAMU BOLEH MENJADI SEORANG AHLI 
TETAPI JANGAN BERPIKIR SEPERTI SEORANG AHLI”


Jumat, 11 Maret 2011

Diriku Bukan Mainanmu

mungkin dirimu mengajarkan ku kesabaran
dirimu yang berikan aku luka
namun kenapa aku mudah melupakan mu??

jangan mengharap diriku lagi
karena aku bukan mainanmu
yang bisa ada waktu kamu butuh
dan kamu tinggal ketika kamu tak membutuhkanku

semua akan terhenti disini,
diawal februari ini,,

maaf jika ku melukai,
tapi bagiku ini gak kan melukaimu
karna aku tau dirimu,,

Dan ingat,
Diriku Bukanlah mainanmu.
jangan butuhkan aku lagi,,

saat kau harus pergi

Jika Tuhan menginginkan kau pergi dari hidupku, aku ikhlas,
Jika memang Dia ingin merebutmu dariku, aku ikhlas,
Jika memang kau harus pergi . izinkan aku tuk temani sisa harimu,
Jika memang kau harus meninggalkanku, 
izinkan aku untuk tetap disisimu sampai saat itu datang.

Saat dimana kau tidak lagi dapat brada disisiku,
Saat dimana kau tidak dapat menghapus air mataku,
Saat dimana kau tidak lagi dapat tenangkan gundahku,
Saat dimana kau tidak dapat mendengar lagi keluh kesahku,
Izinkan aku untuk bertahan sampai saat itu!!
Karena ku ingin buktikan bahwa :
“aku tidak hanya ada disaat kau senang, tapi aku akan slalu ada untukmu”

Bila nanti kau pergi , yakinlah pada hatimu “bahwa aku kuat”
Ku yakin aku kuat tanpamu
Ku yakin aku bisa jalani hidup tanpamu
Dan yakinlah bahwa aku akan menemanimu sampai kau tak mampu

Jangan pernah menyuruhku untuk pergi
Karena seribu kalipun kau menyuruhku pergi, aku tetap akan bertahan
Jangan jadikan sakit itu sebagai alasan bagimu
Karena tanpa kau sadari
Tidak hanya kau yang akan pergi dariku
Detik ini pun bila Tuhan menginginkan aku pergi dari sisimu
Aku akan pergi untuk slamanya

Kau tak sendiri
Jangan hadapi sisa waktu itu sendiri
Kumohon, biarkan aku bersamamu
Aku ingin menemanimu

Kau berarti dalam hidupku
Terima kasih karena selama ini kau telah membuatku tersenyum
Terima kasih karena kau telah memberiku arti kehidupan
Dan selamanya kau akan tetap bisa menghadirkan senyum itu untukku
Meski raga tidak dapat bertatap,, yakinlah bahwa hati ini selalu ada untukmu
Karena aku hanya ingin kau tau
“aku sayang kamu, kemarin, hari ini, dan sampai nanti"