Kabut-kabut duka masih menyelimuti keluarga gadis mungil itu. Rangkaian-rangkaian bunga masih menghiasi pelataran rumah mewah di kawasan perumahan elit Zenna seoarang gadis cilik yang selalu ceria dan tak pernah muram, kini telah tertunduk lesu di sudut ruang yang gelap dan sunyi. Raut wajah muram selalu tertempel di wajah polos gadis mungil yang tak berdosa itu.Kenangan-kenangan indah dimasa lalu masih terukir jelas di benak seorang gadis mungil itu. Seorang ibu yang telah melahirkannya dan telah merawatnya dengan penuh kasih sayang kini telah meninggalkannya untuk selama-lamanya.
“bunda…bunda…Zenna kangen bunda!!” sambil sesenggukan Zenna merengek memanggil ibunya.
Tetesan air mata Zenna mengalir tanpa henti. Rengekan demi rengekan yang keluar dari mulut Zenna tak mendapat respon dari siapapun. Ayah Zenna masih mengurung diri dikamar yang selama ini di gunakan untuk memadu kasih antara nya dab mendiang istrinya. Tiap kali mendengar isak tangis Ayahnya, sebongkah benda keras serasa menghantam kepalanya.
Cahaya bulan menerobos masuk dan menyorot wajah Zenna yang sedang tertunduk pilu itu. Tiba-tiba Zenna teringat pesan bundanya, “ketika Zenna mendapat ujian dari Allah Zenna harus bersabar , lebih baik Zenna berdoa kepada Allah yang telah memberikan cobaan kepada kita” bisik Zenna mencoba mengulang pesan bundanya. Zenna mulai beranjak dari tempatnya bersandar. Kaki kecil Zenna mulai melangkah pasti menuju kamar tempat Ayahnya mengurung diri.
“tok…tok..tok” tangan kecil Zenna mulai mengetuk pintu kamar Ayahnya.
“Ayah…Ayah…” Zenna memanggil Ayahnya dengan linangan air mata yang membasahi pipinya.
Dengan segera Ayah zenna membukakan pintu untuk Zenna. Ayah zenna meraih tubuh mugil Zenna dan memeluk Zenna dengan erat. Telapak tangan halus Zenna mendarat di pipi Ayahnya, dan menghapus air mata Ayahnya.
“Ayah…Ayah jangan nangis lagi ya..!! kalo Ayah nangis nanti bunda ikut sedih.” pinta Zenna.
Ayah Zenna hanya bisa menganggukan kepala, sebagai isyarat dia mengiyakan pendapat Zenna.
“Ayah kita berdoa untuk bunda yuuk.” Ajak Zenna kepada Ayahnya.
Tanpa membalas ajakan dari Zenna, Ayah Zenna meraih tangan Zenna dan menggandengnya menuju kamar untuk berdoa kepada Allah agar almarhumah tenang di sisi Allah.
***
9 tahun telah berlalu, kini Zenna telah tumbuh menjadi gadis dewasa yang sangat cantik. Satu tahun belakangan ini Zenna merasa rasa sayang Ayahnya untuk Zenna perlahan-lahan mulai pudar. Setelah sekian lama memendam perasaan itu kini Zenna memberanikan diri untuk mengajukan pertanyaan tersebut untuk Ayahnya.
“Ayah…, Ayah ngerasa nggak???”tanya Zenna
“ngerasa apa Zeen??”tanya Ayah menyelidik.
“yah…kenapa sih belakangan ini Ayah sering pulang malam??”tanya Zenna
“iya Zeen…belakangan ini Ayah sibuk sekali.”jawab Ayah dengan tenang.
“jangan-jangan Ayah udah nggak perduli lagi ya sama Zenna??”tambah Zenna
“jelas tidak dong Zeen…kamu adalah satu-satunya anak Ayah dan hanya kamu family yang Ayah punya. ” jelas Ayah.
Kini Zenna lega mendengar jawaban dari Ayahnya. Zenna pun tersenyum sambil memeluk Ayahnya.
“yah…sekarang Ayah sudah punya pengganti bunda belum??”tanya Zenna dalam pelukan Ayahnya.
“Zeen…jangan tanya seperti itu lagi yaa!!”pinta Ayah Zenna.
“lho kenapa yah??”tanya Zenna menelisik.
“tidak akan ada yang bisa menggantikan bunda di hati Ayah” jawab Ayah dengan menitikan air mata.
“tapi Ayah…Ayah juga butuh pendamping.”
“tidak untuk saat ini Zeen”
“kenapa yah??”
“karena Ayah sudah mempunyai kamu, kamu adalah segalanya bagi Ayah, Ayah sudah bahagia bisa menikmati hari-hari Ayah dengan kamu” jelas Ayah ke Zenna
“ayaaaaah…Ayah bisa aja dech…Zenna juga sayang Ayah. Tapi Ayah…untuk saat ini dan untuk seterusnya Zenna sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu yah.”
“Zenna cukup!! Ayah jangan paksa ayah lagi untuk mencari pengganti bunda.” bentak Ayah.
Dengan mata yang berkaca-kaca Zenna berlari meninggalakan Ayahnya. Masih terngiang di telinga Zenna kata-kata yang dilontarkan Ayahnya tadi. Zenna sangat merasa bersalah telah memaksa Ayahnya untuk segera mendapatkan pengganti sang bunda.
Dikamar Zenna terpajang foto-foto semasa kecilnya bersama sang bunda. Zenna mengusap foto sang bunda. Melihat foto-foto yang menyisakan kenangan manis itu, sejurus ingatannya terbang pada 10 tahun silam. Ketika bundanya duduk disebelah Zenna sambil tersenyum manis melihat kamera yang sudah bersiap menjepret kearah mereka berdua.
“ternyata cinta Ayah untuk bunda tidak pernah pudar.” Gumam Zenna pelan.
Zenna tenggelam dalama lamunannya, semakin dalam dan semakin dalam hingga akhirnya Zenna terlelap sambil memeluk erat foto sang bunda.
“derrrt…derrrt” Zenna terbangunkan oleh getar handphone dalam sakunya. Zenna pun bergegas mengambil handphone-nya dalam saku.
“hallo dengan Zenna di sini, ini siapa ya??” ucap Zenna penasaran
“Zeen…masih inget tante??” tanya si penelpon
“siapa ya??” tanya Zenna penasaran.
“sebentar-sebentar….kalau dari suaranya kelihatanya Zenna kenal.” Sahut Zenna
“ini tante Zeen, tante yang di mall kemarin yang kamu tolongin waktu mau di rampok.” Ucap tante menjelaskan.
“ooohhh…tante Selvi, ada apa tan??” tanya Zenna.
“enggak ada apa-apa zenn, Cuma mau bersilaturahmi saja sama kamu. Eh Zeen tante ini ada di Green Bambbo, kesini dong!!” pinta tante Selvi.
“Green Bambbo tan?? Oke tante 15 menit lagi Zenna sampai. Zenna ganti baju dulu ya tante. Da..da… ” ucap Zenna girang.
Secepat mungkin Zenna mencari baju yang cocok dan segera memanggil pak Maman untuk mengantarkannya ke Green Bambbo.
“pak Maman anterin aku ke Green Bambbo ya!! Restorant seperti bisaanya itu lho pak.” Pinta Zenna.
“siap non.” Jawab pak Maman.
15 menit telah berlalu dan akhirnya…
“tante….” Sapa Zenna.
“eh Zenna.” Balas sang tante sambil mengusapkan tissue di pipi kanan-nya.
“Zeen…tante mau cerita sama Zenna. Tante nggak tau lagi mau cerita masalah ini ke siapa. Jadi tante berfikir hanya kamu yang bisa mengerti tante dan mungkin bisa membantu tante. Mau ya Zeen??” pinta tante.
“iya tante silahkan…Zenna mau kok.” Ucap Zenna lembut.
Lebih dari satu jam sudah sang tante berkeluh kesah kepada Zenna. Sering kali tante Selvi mengusapkan tissue ke kedua pipinya yang memar. Ternyata tante Selvi sedang mempunyai masalah dengan suaminya dan sekarang tante Selvi telah diusir dari rumah suaminya. Zenna sangat kasihan dengan tante Selvi, akhirnya Zenna menyarankan tante Selvi untuk tinggal di apartement milik Ayahnya yang bersebrangan dengan rumah yang dihuni Zenna dan Ayahnya.
Awalnya tante Selvi menolak, tapi setelah mendapatkan rayuan dari Zenna, akhirnya tante Selvi mau.
“tapi Zenn…bagaimana kalau Ayahmu tidak setuju dengan semua ini??” tanya tante Selvi.
“udahlah tante, soal Ayah itu gampang” ucap Zenna meredam kegelisahan tante Selvi.
“kita pulang sekarang yuuk tan!” Ajak Zenna.
Senyuman tante Selvi mengisyaratkan kesetujuannya kepada Zenna. Zenna segera meraih tangan tante Selvi dan menggandengnya menuju sebuah mobil sport sexy warna merah.
“pak Maman kita pulang sekarang!” ucap Zenna memerintah sopirnya dengan lembut.
“oke non.” Ucap pak Maman
Setelah sampai dirumah, ternyata Ayah Zenna sudah berangkat ke luar negeri untuk mengurus pekerjaan.
“emak…emak….” Teriak Zenna memanggil pembantunya.
“ada apa non kok teriak-teriak??” tanya pembantu Zenna yang sudah belasan tahun membantu di rumah Zenna.
“mak…Ayah udah berangkat?? Berapa hari mak??” tanya Zenna.
“udah non, kira-kira 4 atau 3 hari.” Jawab emak.
“emak Zenna mau minta tolong, boleh kan??” Zenna bertanya dengan santun.
“iya, boleh non.” Jawab emak
“mak, tolong rapikan kamar tamu depan ya! Buat tante Selvi.” Pinta Zenna.
“baik non.” Jawab emak
Zenna menggandeng tangan kanan tante Selvi menuju kamarnya. Zenna menceritakan semua tentang kehidupan semasa kecilnya kepada tante Selvi. Zenna menceritakan semua kebahagiaan saat bundanya masih ada, Zenna juga tak lupa menceritakan keinginannya mempunyai bunda baru. Detik demi detik bergulir dengan begitu cepat. Tak terasa ternyata udara malam mulai menyelimuti kehangatan mereka berdua, Zenna pun tertidur di pangkuan tente Selvi.
***
3hari telah berselang, akhirnya hari yang dinanti Zenna datang juga. Ayah Zenna menemui Zenna yang masih tertidur dikamarnya. Ayah zenna mencium kening Zenna, Ayah zenna melihat ada segelas susu di meja samping tempat tidur Zenna yang masih hangat.
“tumben si bibik nganter susu ke kamar Zenna.” Gumam Ayah Zenna
“eh Ayah.” Sapa Zenna.
“zenna maafin ayahnya…kemarin sudah marahin kamu.”
“iya yah. Zenna juga udah maafin ayah kok. Zenna memang pantas dimarahin. Nggak sepantasnya zenna memaksa ayah untuk mencari pengganti bunda.”
“bau banget Zeen, mandi gih…biar nggak bau!!” perintah Ayah.
“iya-iya yah. Kayak Ayah udah mandi aja.” Jawab Zenna sambil ngeledek Ayahnya.
Ayah Zenna tersenyum kepada Zenna, lalu Ayah membuka semua tirai di kamar Zenna.
“Zeen…Zenna…udah mandi Zeen??” tanya seorang perempuan di balik pintu kamar Zenna.
“siapa diluar??” respon Ayah Zenna dari dalam kamar.
Belum sempat menjawab pertanyaan Ayah zenna, Zenna udah membukakan pintu kamarnya sambil memperkenalkan tante Selvi.
“Ayah ini tante Selvi, teman Zenna. Dan tante ini pak Wisnu Ayah Zenna.” Ucap Zenna mencoba memperkenalkan.
Sambil tersenyum Ayah zenna menjabat tangan tante Selvi.
“ya sudah, Zenna mau mandi dulu ya, silakan kalian berbincang-bincang.” Ucap Zenna tergesa-gesa.
Mereka saling menceritakan masalah mereka masing-masing. Disela-sela perbincangan mereka, mereka sesekali melemparkan lelucon-lelucon yang membuat mereka tertawa terbahak-bahak.
Setelah 2jam mereka bercerita, tante Selvi berniat untuk kembali ke apartement milik Ayah Zenna.
“looh..tante Selvi mana yah??” tanya Zenna
“udah balik Zeen.” Jawab Ayah Zenna.
“yah, tante Selvi kasian ya, masak di usir suaminya.” Cerita Zenna kepada Ayahnya.
“iya kasihan sekali dia. Ayah juga udah tau semua.”
“yah, tante Selvi itu baik ya, masak tadi pagi tante Selvi nganter susu ke kamar Zenna.”
“oh..jadi yang nganterin susu itu tante Selvi??” tanya Ayah.
“iya yah.” Jawab Zenna singkat.
“Ayah suka ya??” tambah Zenna.
“nggak kok…” jawab Ayah dengan malu-malu.
“cieee….ya udah yah Zenna mau ke rumah tante Selvi dulu. Dada Ayah…” pamit Zenna.
“iya…salam ya…” ucap Ayah.
“iya iya yaah..” jawab Zenna.
Zenna berlari keluar dari rumah dan segera menuju rumah tante Selvi yang ada di depan rumahnya. Zenna menceritakan semua perbincangan Zenna dengan Ayahnya tadi. Ternyata tante Selvi juga mempunyai rasa yang sama dengan Ayah Zenna ketika awal pertemuanya dengan Ayah Zenna.
***
“Zenna…bangun!! Ayo bantu mama nyiapin sarapan buat Ayah.” Teriak seorang wanita dari depan pintu kamar Zenna.
Zenna bangun dan beranjak dari tempat tidurnya.
“iya mamaku sayang…. Zenna uda bangun nih. Emangnya mama pagi ini masak apa sih wangi banget baunya??” tanya Zenna penasaran.
“udah ayo cepet turun. Pokoknya sarapan pagi ini sangat special.” Jawab mama singkat.
Mama zenna segera meraih tangan Zenna dan menggandengnya menuruni tangga. Zenna pun mengikuti langkah mamanya.
“yah nanti Zenna mau pergi sebentar ya.” Pamit Zenna kepada Ayahnya.
“mau kemana Zeen??” tanya Ayah Zenna.
“mau ke rumah teman Zenna yah.” Jawab Zenna.
“oooh…iya boleh. Tapi hati-hati ya Zeen!!” pinta Ayah Zenna.
Zenna tersenyum dan tanpa ragu tangan kanannya meraih ayam goreng yang dimasak mamanya special untuknya. Tak mau berlama-lama makan Zenna segera menghabiskan makanan yang ada di piringnya lalu mengambil langkah seribu menuju kamarnya untuk mandi.
15 menit Zenna berada di dalam kamar. Zenna meraih gagang pintu kamarnya dan bersiap untuk menuju tempat tujuan.
“mam Zenna pergi dulu ya. daaa” teriak Zenna dari teras depan.
Secepat mungkin Zenna mengemudikan mobilnya. Akhirnya sampailah ditempat tujuan. Zenna berjalan menelusuri batu nisan. Langkah Zenna terhenti ketika melihat tulisan “SEKARDHANI WULAN ASIH” yang terukir indah di sebuah batu nisan yang telah using termakan zaman.
“bunda… Zenna kangen banget sama bunda. Bunda…ternyata bunda pergi udah lama banget ya. Kini Zenna udah 16 tahun. Bun…sekarang Zenna telah mempunyai seorang yang bisa mengerti Zenna, seperti bunda dulu. Yang selalu merawat Zenna, menghibur Zenna ketika Zenna sedih dan selalu membantu Zenna saat Zenna tertimpa masalah. Kini tante Selvi telah menjadi mama Zenna. Tapi walaupun kini Zenna telah mempunyai mama baru, Zenna nggak akan melupakan bunda yang telah melahirkan Zenna kedunia ini.” Ucap Zenna sambil memandang pemakaman bundanya.
“bun Zenna pulang dulu ya… Zenna sayang bunda.” Ucap Zenna sambil mencium batu nisan sang bunda.
Wajah Zenna mendadak merah dan terlihat shock setelah membalikkan badannya.
“Ayah…. Mama… udah lama di sini??” tanya Zenna.
“lumayan… lagian kamu mau kerumah bunda nggak bilang-bilang sama Ayah dan mama. Jadi kami sepakat untuk mengikuti kamu.” Jawab Ayah.
Zenna menggandeng Ayahnya dan mamanya mendekat pemakaman bundanya.
“bunda ini mama Zenna yang Zenna ceritakan tadi. Kini Ayah, bunda dan mama Selvi adalah orang-orang yang selalu mengisi hati Zenna dan selalu Zenna sayangi. Zenna sayang kalian semua” ucap Zenna sambil memeluk Ayah, mamanya dan batu nisan bundanya.
*** SELESAI ***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar